BELAJAR KE PURWOKERTO

WORK LIKE YOU DON’T NEED THE MONEY.

LOVE LIKE YOU’VE NEVER BEEN HURT.

DANCE LIKE NOBODY’S WATCHING.

-Satchel Paige-

Tulisan ini dibuka dengan kutipan dari seorang legenda baseball Amerika di situs LPPSLH  (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup) Purwokerto.

Banyak hal yang mau Aku ceritakan tentang perjalanan ke Purwokerto kemarin. Tapi karena aku pemalas, nanti dicicil aja ya. Hehehe.

Seperti liburanku pada umumnya, Aku tak mau terikat waktu. Tidak harus bangun terlalu pagi untuk mengejar destinasi baru, juga tak tidur terlalu cepat. Yaa, dasar pemalas!

Oke-oke-oke. Langsung aja ya. Lagi-lagi sangat bermanfaat tidak berekspektasi pada apa pun. Kejutan-kejutan baru sesungguhnya menanti. Orang-orang baru apalagi. Semua datang bersamaan.

Di sini awal dari semuanya.

Kejutan pertama adalah: AKU DIJEMPUT! Dyah, staf mas Bangkit bertugas menjemputku. Sungguh kejutan luar biasa. Ada empat orang yang datang menjemput. Dyah, Primas, Mas Kris, dan Mas Teguh. Emang Aku siapa harus dijemput segala? Untuk ini, tentu aku protes.

Kejutan kedua adalah: AKU DIINEPKAN DI HOTEL! Aku protes besar untuk ini. Kata mereka ini adalah standar layanan buat tamu. Aku padahal nggak merasa sebagai tamu. Karena besoknya nggak sempat check out, dua malamlah nginep di sana. Di Purwokerto banyak hotel kok. Jadi kalau mau ke sana, nggak ada saudara-pacar-kenalan-gebetan-apalagi simpanan jangan takut ya. Wkwkwk.

Kebanyakan protes, mas Bangkit menyerah dan bilang lakukan apa pun yang Aku mau tapi HARUS NYAMAN. Dia kira Aku anak kecil. Sangkin dia sibuknya, kami justru nggak banyak ngobrol dan ketemu di sana.

Karena nggak ada yang menawarkan diri untuk Aku menginap di rumahnya (pengen gratisan banget yah!), akhirnya Aku nyari di Airbnb. Ini juga penting banget. Banyak penginapan bagus dan murah. Juga host yang ramah dan baik hati. Hehehe.

Hari pertama, Aku pergi ke desa Rancamaya. Desa ini adalah penghasil gula kelapa. Di sana tinggal para penderes pohon kelapa. Beberapa juga mengolah nira menjadi gula. Ada dua jenis gula yang dihasilkan, gula cetak dan gula kristal.

Jangan sepele ya, produk yang mereka hasilkan pasarnya bukan kamu! Ya kamu! Pasarnya adalah daratan Eropa. Mereka telah bersertifikasi gula organik yang dibantu LPPSLH.

Aku sangat beruntung bisa melihat lebih tepatnya terlibat pembuatan gula kelapa. Kalau ditanya ibunya sih, Aku merepotkan mereka. Hehehe.  Ibu Surtina bilang, kunci dari pembuatan gula kelapa adalah keharmonisan rumah tangga. Itu bukan mitos, tapi memang terjadi. Nira bisa gagal diolah menjadi gula kalau hati tidak senang. Kegagalan ini selalu terjadi kalau mereka berantem. See, hati yang gembira adalah obat. Ternyata berlaku untuk semua hal.

Di rumah bu Surtina aku belajar membuat sapu lidi. Ini hal yang sama sekali baru. Semua pelepah tumbuhan palem bisa dibuat jadi sapu lidi. Intinya tulang pelepah itulah yang jadi lidi. Sampe pak Irwan (komandan koperasi gula kelapa) meledekku kalau dia bisa menyelesaikan lima lidi dengan waktu yang bersamaan aku hanya bisa membuat satu lidi.

Wadoh, ini baru cerita di satu tempat loh. Udah sepanjang ini. Semoga nggak bosan ya bacanya.

Processed with VSCO with hb1 preset
Curug Bayan

Lanjutlah ya. Di Purwokerto ada banyak curug. Aku pergi ke salah satu curug yang dekat Batur Raden, puncaknya Purwokerto. Banyak penginapan, juga taman nasional, hutan pinus, permandian air panas, dan arena bermain di sana. Lumayan dingin. Tapi nggak sedingin Sidikalang, tempatku lahir.

Selain tempat baru, tentu kuliner nggak bisa dilewatkan. Paling terkenal itu ya Tempe Mendoan. Ada juga Soto Sokaraja. Satu lagi yang Aku coba adalah Sate Kelinci, hehehe. Ada beberapa rumah makan yang enak di Purwokerto. Umahe Inyong salah satunya. Maknyuss pokoke!

Kejutan sesungguhnya adalah Aku bergaul dengan teman-teman pendamping desa dan kota. Seumuran denganku. Sejujurnya Aku malu sama mereka-mereka yang hebat ini. Di umur sekarang, mereka mengabdikan diri menjadi pendamping masyarakat.


Mbul, Dyah, dan Primas adalah pendamping penderes nira, pengolah gula kelapa, hingga mendampinginya dalam memenuhi standar sertifikasi gula organik. Dengan pendampingan mereka, petani memiliki nilai jual yang tinggi atas hasil kerjanya hingga bisa diekspor.  

Sedangkan Adji adalah pendamping masyarakat kota. Ia mendampingi masyarakat daerah lokalisasi mengenai kesehatan reproduksi, edukasi HIV/Aids, komunitas LGBT dan banyak lagi.

See? Mereka hebat sekali. Mereka bukan lulusan sarjana kesejahteraan sosial kayak aku. Tapi mereka punya dedikasi dalam pendampingan masyarakat. Kami banyak berbagi. Terutama soal seksualitas, kondom, keberagaman, dan kesehatan mental. Soal kondom ada cerita lucu. Di setiap tempat makan, kami cerita tentang kondom. Hahaha. Kayak nggak ada bahasan lain ya. Terima kasih kalian!

Processed with VSCO with a5 preset
Primas, Dyah, Aku, Mbul, Adji

Cerita lain yang menarik adalah berkunjung ke Pulau Nusa Kambangan. Aku nggak boleh banyak cerita tentang ini. Ini sudah komitmen. Intinya LPPSLH mendampingi penghuni lapas terbuka di sana untuk memproduksi gula kelapa dan peternakan sapi. Udah itu aja cerita Nusa Kambangan ya. Selebihnya japri aja, hehehe.

Empat hari di Purwokerto memberi semangat baru. Perjalanan detox kemaren menggerakkan sendi-sendi yang lama tak bergerak. Tahun ini harus lebih banyak mengabdikan diri.

Selamat tahun baru!

Processed with VSCO with hb1 preset
Banyak melihat ke bawah ya!

 

4 thoughts on “BELAJAR KE PURWOKERTO

  1. Aku japri ya….hahaha… Ko tdk libur k maumere? Sini…. btw, makasih info ttg purwokertonya y. Dulu pas kuliah kami biasa mnyebut puortoriconya jawa….hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s