KE BANDUNG, (BUKAN) SURABAYA

Aku sering ke Bandung, tapi selalu untuk urusan kerja. Bahkan pernah untuk meeting doang, trus balik lagi hari itu juga. Yassir, PNS gahols Kominfo bilang Bandung adalah kota tinggal impian. Aku selalu bilang: kok Aku nggak ya. Alasannya karena Aku nggak punya histori apapun tentang Bandung. Ya karna itu tadi, ke sana cuma kerja doang.

Processed with VSCO with hb2 preset
B A N D U N G

Akhir tahun kemarin, The Binals (Jojo dan Sherlina) masukin aku ke grup hunting foto Bandung. Isinya ada Hindrawan dan Eric juga. Mereka ngajakin jalan ke Bandung, sekedar berleha-leha di kafe, taman kota, atau belanja ala-ala ke factory-factory outlet di sana. Oke deh, pikirku. Lagian kan ini kesempatan menjelajah kota yang nggak punya histori dalam memori otakku tadi. Hehehe.

Menjelang hari-H, ci Jojo, sang wanita ular dengan karir cemerlang memutuskan nggak jadi pergi karena ada beberapa meeting yang katanya luar biasa penting (bahkan lebih penting dari berlibur sebentar saja). Kan kampret! Si Eric juga nggak kalah sibuk, bahkan sampai kami pulang ke Jakarta juga nggak muncul di grup Whatsapp.

Okelah, kita tinggalkan mereka.

Drama dimulai ketika Aku ketinggalan kereta. Hahahahaha. Ini sih kocak. Aku bangun jam 5 pagi setelah di telponin Sherlina, ketika kereta pagi itu sudah melaju. Padahal udah set alarm jam 3. Tapi, ya gitu, nggak kebangun juga. Dengar suara alarm juga nggak. Wkwkwk.

Processed with VSCO with hb2 preset
Selalu Pakai Kain Tenun Flores di Setiap Perjalanan, Pemberian Valentino Luis

Mereka menyarankan naik travel. Karena Aku nggak sanggup menghadapi macetnya Jakarta-Bogor, memutuskan nggak usah pergi daripada harus naik mobil. Dengan buru-buru, aku ke Stasiun Gambir. Gamblinglah. Kalo dapat kereta selanjutnya, ya berangkat. Kalo nggak dapat, ya pulang, trus lanjutin tidur lagi. Hehehe.

Dasar rejeki anak (nggak) soleh, Aku dapat kereta untuk jam 6.15. Si dua anak hilang (Sherlina dan Hindrawan) udah sarapan nasi campur (babi) duluan di Tipsy Pig, nggak jauh dari Stasiun Bandung. Aku menyusul begitu tiba jam 10. Jalan kaki, menikmati Sabtu pagi yang lamaaaaaaa nggak pernah kunikmati. Jalan kaki dari Stasiun Palmerah ke kantor aja malas. 😀

Karena niat ke Bandung emang hanya rehat dari kecepatan ibu kota, kami nggak mau buru-buru. Tetap aja sih, tabiat berkejaran dengan waktu muncul. Kadang jadi bete karena diburu-buru.

Kami singgah dulu ke penginapan di Chez Bon Hostel, Jalan Braga. Mureh. Cuma 150 ribu per orang. Kayak asrama putra. Seru.

Meskipun teman-temanku asli Pulau Jawa, ternyata kami bertiga belum pernah ke Tangkuban Parahu. Kami ke sana hari pertama ini, bagus, rame, dingin, dan bau belerang. Setengah jam di sana, kami balik ke kota. Nice to know.

Seharian itu kami habiskan makan (di tempat ini mahal, dan menunya nggak terlalu bervariasi, mendingan Ampera sih kemana-mana kalo makanan khas Sunda (mureh juga)) -ke Ciwalk (jalan di terasnya juga), nongkrong di kafe yang super-duper-rame dan waiting list di Jalan Braga, trus tidur.

Besok paginya, kami ke Taman Hutan Raya Kota Bandung. Well maintened nih. Reccomended kalau jalan ke Bandung, kudu ke sana. Udaranya masih sangat-teramat-sangat segar. Banyak tempat yang bisa dijelajahi di dalamnya. Gua Jepang, Gua Belanda, beberapa curug, taman  bermain, sampai Tebing Keraton.

Siangnya dihabiskan di Kafe D’ Pakar, di bukit. Segar, makanannya enak, tapi gerimis sih kemarin. Jadi dingin sekali pakbos!

Turun ke kota lagi, kami ke Bandung Creative Hub. Ini sih jangan ditanya. Baru buka akhir tahun kemarin, udah rame pengunjung. Dannnnn, ini buka setiap hari. Kalau mau buat acara, semuanya gratis-tiss-tissss-tissssssss. Tempatnya sangat bagus. Cuma belum selesai semua ruangannya. Dalam waktu dekat katanya akan rampung.

Hari terakhir ini kami habiskan duduk leyeh di kafe (Bandung sih kataku kota seribu kafe, asli dimana-mana ada kafe. Sampai ke bukit-bukit juga ada, dan semuanya rame). Makan di Toko You yang sudah berdiri sejak 1947, Alun-Alun Kota Bandung, dan Sejiwa Coffee, yang dikunjungi Pakde Jokowi kayak Kopi Tuku itu.

Selama di sana, kami sangat memanfaatkan transportasi online. Sangat bersahabat. Kayaknya masuk surga semua tuh drivernya. Aminnnnn, hehehe.

Terima kasih kemacetan Kota Bandung, yang mulai ngalahin Jakarta. Aku mulai memupuk histori di otakku. Bandung kota rehat, bisa santai dan leha-leha. Sampai berjumpa rehat selanjutnya!

Processed with VSCO with hb2 preset
Terima Kasih, Bandung!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s