TERINSPIRASI MENGINSPIRASI


Di Indonesia, Hari Inspirasi tidak pernah berhenti
— Kelas Inspirasi

Aku sama sekali nggak pernah kepikiran untuk ikutan Kelas Inspirasi. Sama sekali. Tapi akhirnya ikutan dalam bentuk kecelakaan. Wkwk.

Temanku, Randi penggiat Komunitas Lakoat.Kujawas, menggagas Kelas Inspirasi Soe. Karena salah satu inspirator batal ikut, secara mendadak ditawarkanlah padaku, butiran debu  sang pilihan terakhir ini. Wkwk. Pas kali dengan weekend-ku yang senyap. Sedang tak ada rapat ke luar kota dan tak ada rencana melancong pula.

Kelas Inspirasi Soe, SD Oenali Soe

Jadilah hari itu, 3 November 2018 ikut KI Soe yang pertama. Dengan bekal titel dan nama organisasi tempatku bekerja sekarang, Aku jadi inspirator dengan profesi pekerja sosial.

Tanpa persiapan yang matang dan banyak-banyak riset tentang KI, aku dengan PD masuk ke kelas. Dapat jatah tiga kelas pula itu. SD Oenali, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Di dalam kepalaku, KI hanya soal menceritakan profesi kita. Agar anak-anak punya bayangan mengenai berbagai jenis profesi. Di kelas, mulutku berbuih-buih (lebay!) ngomongin apa itu pekerja sosial. Kok kayak nggak nyambung ya. Anak-anak mulai bosan. Akhirnya aku lebih banyak ngajak mereka bermain.  

KI pertamaku beres. Eh, ternyata setelah itu masih ada Refleksi. Tujuannya berbagi pengalaman para relawan di sekolah dan bertemu inspirator lainnya. Di sana Aku bertemu dengan inspirator-inspirator senior yang udah mencicipi KI di daerah-daerah lainnya.

Kasian amat yang pegang spanduk, hehehe

Akhirnya, Aku yang perantau ini punya banyak teman. Terima kasih KI. Wkwk.

Seperti dendam, rindu itu harus dibayar tuntas. Assek! Awal bulan ini, Kelas Inspirasi Kupang ada lagi untuk kedua kalinya. Aku daftar jadi relawan inspirator. Bisa juga daftar jadi relawan dokumentator atau fasilitator. Akhirnya aku bukan pilihan terakhir. Wkwk.

SD Inpres Bakunase I

Kali ini persiapanku lebih matang. Aku terinspirasi untuk menginspirasi. Baik netijen maha benar, Aku tak semenginspirasi itu kok. Tenang! Jangan langsung ngamuk gitu baca ini. Hahaha.

Aku mempersiapkan materi Perlindungan Anak. Nggak perlulah kuceritakan apa isi materi ini ya. Japri aja kalau mau minta slides-ku. Wkwk. Intinya, Aku bilang ke anak-anak bahwa kekerasan itu terjadi sehari-hari, tanpa kita sadari. Korbannya adalah anak, dan pelakunya bisa orang yang paling dekat sekalipun.

Data P2TP2A Kabupaten Timor Tengah Selatan aja, sudah 38 kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan selama tahun 2019. Nggak usah disebutkan lagi angka nasionalnya ya. Menangis Akutuh 😦

Selain memberi tahu jenis-jenis kekerasan, Aku juga cerita bagaimana harus berlaku saat mengalami, melihat, menduga, atau mendengar terjadi kekerasan pada anak. Metode kali ini kuanggap ampuh. Kelas tidak rusuh. Anak-anak antusias. Sekaligus secara tidak sadar sedang curhat pernah mengalami berbagai jenis kekerasan 😦

Bukan main tebak kata ya!

Oke, cukup seriusnya. Tapi emang seserius itu kasus kekerasan pada anak.  2 Maret 2019, SD Inpres Bakunase 1 Kupang menjadi percontohan pertamaku. Dari sini, aku terinspirasi agar semakin banyak lagi anak-anak yang terinformasi.

Memang melenceng dari misi memperkenalkan profesi. Tapi, ini penting. Anak berhak mendapatkan perlindungan. Kita berkewajiban memenuhi hak anak. Titik.

Dari Kelas Inspirasi ini, aku banyak belajar. Belajar memberi diri. Ya, Aku seorang pekerja sosial. Sehari-hari ya berkutat dengan permasalahan sosial. Tapi, teman-temanku yang lain bukan pekerja sosial. Guru, apoteker, pegawai bank, perawat, dosen, polisi, dokter, peneliti, dan banyak lagi. Mereka memberi diri.

Tim Bakunase I

Ntah kenapa, apakah karena Aku bekerja secara profesional sebagai pekerja sosial, kadang kurang peka dengan hal-hal kecil. Contohnya, Hari Inspirasi yang cuma sehari ini rasanya terlalu singkat untuk teman-teman yang datang dari luar kota. Mereka telah mengeluarkan tiket pesawat yang besar, eh acaranya cuma sehari.

Padahal, ternyata dengan kehadiran mereka 30 menit di dalam kelas, sangat berarti untuk anak-anak Indonesia. Juga misalnya, sesederhana menyumbang 20 ribu melalui situs crowdfunding, kita berkontribusi atas kesembuhan orang lain, pembangunan rumah ibadah, bantuan korban bencana alam, dan lainnya.  

Ah, terlalu banyak hal yang bisa kita lakukan.

NB: foto anak sesuai izin.
RELAWAN HEBAT!