SETAHUN SUDAH

Hari ini, tepat setahun lalu Aku pindah ke NTT. Ini bukan keputusan semalam. Tapi nggak terlalu banyak mikir juga sih.

Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur

Namanya hidup pasti penuh kejutan dan ketidakpastian. Kita hanya perlu mengambil kesempatan, atau tak akan pernah mendapatkannya.

Kali itu, aku memutuskan mengambil kesempatan. Belum matang betul sih berpikirnya, tapi kan nggak ada yang jalan mulus-mulus aja wak. Sesiapnya kita menjalaninya aja.

Sebelumnya, aku sudah beberapa kali ke Kupang dan Maumere. Tapi itu hanya kerja untuk  beberapa hari. Bukan tinggal lama. Kali ini yang kutuju adalah Kota SoE. Sekitar 110km dari Kota Kupang. Untuk tinggal dengan waktu yang belum tahu sampai kapan.

Berdiskusi dengan anak dan kaum muda

Awal Aku pindah ke sini, nggak kenal seorang pun. Bermodalkan dijemput driver kantor dari bandara di Kupang, melanjutkan perjalanan 2.5 jam ke SoE. Makin lama kok ya makin ke bukit perjalanannya. hahaha .

Ternyata SoE adalah kota dingin. Kalau lagi musim dingin bulan Mei-Juli, bisa sekira 10-15 derajat suhunya. Mirip Ruteng atau Bajawa di Flores. Bukan kayak bayangan kita kalau denger NTT pasti mikirnya pantai, pantai, dan pantai.

Sekarang, banyak sekali orang baik yang kukenal.

Forum Anak Desa

Aku pindah kerja ke salah satu organisasi kemanusiaan, Plan International Indonesia. Fokusnya pada anak dan kaum muda, terkhusus perempuan. Dalam keseharian, Aku membantu anak-anak bagaimana berpartisipasi dalam pembangunan melalui berbagai project. Intervensinya berbasis hak anak.

Pindah dari Jakarta dalam bayanganku adalah lebih manusiawi. Tidak dikejar waktu. Tanpa himpitan rutinitas.

Ternyata? Jeng-jeng-jeng!

Orang yang bekerja di luar Jakarta tak kalah sibuk coy!

Karang Taruna

Salah satu mimpiku ketika memutuskan pindah adalah tidak membawa point of view Jakarta ketika bekerja dalam kerangka pembangunan. Apalagi pembangunan manusia.

Orang Jakarta jangan  sok tahu dalam melakukan kerja-kerja pembangunan. Harus mengkontekstualisasikannya dalam kebudayaan. Melebur dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya Timor

Bicara soal gender, pendidikan, inklusivitas, perlindungan anak, partisipasi, pemberdayaan ekonomi dan lainnya. Semua tak lepas dari pendekatan kebudayaan setempat. Satu daerah dan lainnya akan berbeda metode pendekatannya. Meskipun tujuannya sama.

Banyak kerja-kerja pembangunan yang tak tepat sasaran. Mubajir. Bukannya berdaya, malah yang ada masyarakat tereksploitasi. Demi kepentingan donor.

Komunitas Lakoat.Kujawas

Oleh karena itu, bekerja dari dekat memberikan perspektif baru yang segar. Memberikan pencerahan.

Kuakui, gap antara NTT dan Jakarta begitu luas. Banyak hal yang mau tak mau harus disiasati. Kita harus cari solusi taktis. Tak bisa terus menerus menjadikan lokasi yang sangat jauh, akses infrastruktur buruk, listrik yang tak merata, air bersih langka, pangan sulit, sampai tanah kering jadi alasan untuk tak bisa membangun, terutama membangun manusia.

Setahun sudah. Banyak PR. Mungkin tak harus selamanya di sini. Tapi, Aku belajar banyak. Pada anak-anak, pada filosofi rumah bulat, pada mama-mama, pada ba’i dan nenek, pada keringnya tanah karang, pada sulitnya mendapatkan air, pada gelapnya pedesaan.

Bekerja dengan anak dan kaum muda selalu menyenangkan 🙂

Terima kasih.

4 thoughts on “SETAHUN SUDAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s