AKHIRNYA, KE SUMBA!

Salah satu cita-citaku saat pindah ke NTT adalah bertualang mengelilingi semua pulaunya. Sampai sekarang belum tercapai. Banyak kali loh kan ya pun! Tapi, lumayanlah sudah ke beberapa pulaunya sih. Hehehe.  

Museum Kain di Rumah Budaya Sumba

Libur lebaran tahun ini aku, Endes, dan Yeremia berlibur ke Sumba. Ya Sumba! Pulau yang selama ini pengin sekali kudatangi. Katanya sih bagus kali. Sebagus itu! Let’s see-lah ya.

Kami ikut trip bersama @sumba_trip. Kami dijanjikan akan overland Pulau Sumba dari ujung Sumba Barat Daya hingga berakhir di Sumba Timur. 

Drama perjalanan dimulai ketika penerbangan kami dibatalkan oleh salah satu maskapai plat merah. Mau tidak mau, kami pun berangkat sehari sebelum waktu yang disepakati. 

Desa Adat Ratenggaro

Kami menginap di homestay yang dimiliki Rumah Budaya Sumba. Rumah Budaya Sumba ini adalah salah satu pusat kebudayaan Sumba. Selain menginap, kita bisa belajar mengenai kebudayaan Sumba melalui dua museum, yaitu museum kain (tenun) dan museum artefak. Untuk masuk ke museumnya masih gratis loh. Padahal koleksinya banyak dan kita didampingi guide pula.  

Hari berikut, kami sudah bergabung bersama @sumba_trip. Kami menjelajah Pulau Sumba selama 4 hari 3 malam. Mulai dari Sumba Barat Daya, yaitu Desa Adat Ratenggaro, Pantai Mbawana, Pantai Mandorak, Danau Weekuri. Kami bergerak ke arah Sumba Barat, yaitu Air Terjun Lapopu. Melewati Sumba Tengah, kami akhiri  perjalanan di Sumba Timur, yaitu Bukit Wairinding, Air Terjun Waimarang, Pantai Walakiri, Savana Purukambera, dan Kampung Raja Prailiu.

Pantai Mbawana

“Masih banyak banget yang kita bisa eksplor di sini,” kata Zindan, founder @sumba_trip. Dia bilang, Sumba Tengah justru memiliki potensi wisata yang tak kalah bagus dibanding daerah Sumba lainnya. Namun, aksesnya masih sangat sulit dijangkau.

Semua lokasi ini yang kami datangi sudah menjadi destinasi wisata pop. Jadi, jangan harap akan sepi seperti Sumba beberapa tahun lalu. Di setiap lokasi sudah dijaga oleh warga sekitar. Ini hal baik. Mereka mulai  memastikan sampah dan segala bentuk penjajahan pengunjung terselesaikan. Jalur tracking sudah dibuat. Tempat sampah disediakan. Ini membuat pengunjung juga sadar diri kalau sedang bertamu.

Pose wajib di Pantai Walakiri

Satu hal yang selalu sama juga adalah anak-anak akan mengurumuni mobil pengunjung, dan akan meminta permen. “Di awal-awal bahkan meminta uang,” kata Zindan. 

Perlu keseriusan mengelola pariwisata dari hulu sampai hilir. Pemerintah jangan hanya menjual Sumba melalui jargon-jargon wisata. Juga harus mempersiapkan infrastruktur berupa kesiapan tempat dan sumber daya manusianya. Dampak pariwisata secara psikologis bagi warga perlu pula disiapkan. Nggak seolah-olah kaget dan jadi gegar budaya.

Hampir semua destinasi wisata di sana bergerak secara organik. Tanpa desain yang matang. Jangan sampai alamnya rusak setelah ditinggal pengunjung tanpa ada upaya sustainability. Ini PR bersama.

Bukit Wairinding

Soal alamnya mah, Sumba T.O.P B.G.T!! Merinding coy! Apalagi waktu di Bukit Wairinding. Berasa gimana Marlina menebas batang leher laki-laki jahanam itu. Wkwkwk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s